Rabu, 28 Agustus 2013

dulu, keGALAUan dipenghujung masa SMA...





Terkadang SAKIT melihat SIKAP TAK ADIL dari kau teman. Walau bukan ditujukan untukku . Mengertilah teman, kita sama-sama manusia yang berusaha mencari-terus mencari dan mengamalkan apa yang telah kita dapat. Jika memang itu pilihanmu dan itu pilihannya biarkan ia tetap ada di samping kami. Tetap disamping kami. Seperti dulu, ketika semua tak ada yang mau berada di samping kami, EGOISKAH kami jika kami tetap memilihnya berada di samping kami. Karena apa? Karena kami tahu dia sayang kami. Sejak dulu. Saat semua orang berorientasi pada tujuannya masing-masing.

Kenapa sekarang tiba-tiba ramai saat masalah ini muncul.. hah !
Kemana keramaian itu saat semangat kami berkobar, saat jiwa-jiwa muda kami muncul..

Terlebih
Saat beban dakwah menumpuk di tempat dulu kita bertemu!

Jangan terlalu usik kami dengan pendapat akalmu, bukan dengan ilmu,

Jika memang benar yang kau katakan teman. Mengapa tak tampak satupun pernyataan itu benar.

Jika memang itu ilmu sampaikanlah dengan baik kepada kami bukan dengan tingkah pola seperti itu.

Yah.. karena kami juga makhluk yang miskin ilmu dan bodoh .
Maka kami terus mencari ilmu. Lupakah teman untuk mencari ilmu? Saya yakin tidak.

Cobalah masuki pikiran kami, jelajahi, dan kami yakin, kalian akan sangat mengerti, bukan men-judge, melarang kami untuk berkumpul kembali bersama teman2 seperjuangan kami yg dulu..Iya benar, teman2 kau juga,
kami lelah terdiam. Menyaksikan ini. Tapi Rabb kami menyuruh kami bersabar. Maka kami lakukan. Tapi ingatlah tidak ada yang dapat membatasi gerak dakwah setiap insan .

Kalau ingat tentang perjuangannya dulu, tak pantas rasanya sikap perubahan kalian yang sekarang kepadanya, tenang saja teman, jika memang itu bukan nafsu yang berjalan. Maka kan tampak kemenangan di ujung sana.

Bersama kembali . Kau dan Aku.

*catatan dari teman yang ku cintai karena Allah

Selasa, 20 Agustus 2013

Siap Hidup Susah,, Siapa yang Siap ???



Siapa bilang laki-laki yang mencari istri siap sengsara itu salah?! (bahasa org linguistik -kagak cuma engineer yg bisa- ‪#‎eh‬)

Bismillaah.

Saya yakin tidak ada orang yang mau hidup sengsara, apalagi seorang wanita yang fitrahnya menyukai harta.

Tapi sebagaimana bergulirnya waktu siang dan malam, sudah sunnatulloh bahwa hidup manusia senantiasa mengalami pergiliran.
Sekeras apapun usaha yang seseorang lakukan, jika Allooh ta'aalaa berkehendak padanya kesulitan -dengan hikmah dan rahmatNya- , mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengalaminya.

Sebutlah jika di awal pernikahan kalian dianugerahi kenikmatan, tapi apakah kalian bisa menjamin kebahagiaan duniawi itu hingga kalian meninggal?!
Let's say: Mungkin kagak sih kalau tiba2 seorang pengusaha kaya raya jadi seorang penjual sayur mayur yang miskin papa?!

Ini bukan masalah rendah diri atau kurang bervisimisi kawan!
Tapi ini tentang kesabaran, yang tidak semua orang mampu menanggalkannya di dada dan hati yang terdalam.
Ini tentang mukmin tidaknya seseorang, yang ketika diuji maka iapun bersabar...

Ini, ini tentang kuat tidaknya seseorang menghadapi ujian,
Tangguh tidaknya wanita saat fitnahnya akan harta semakin besar...
Lalu,

Salahkah, salahkah?!
Jika kemudian mereka bertanya padamu wahai wanita muslimah...

Ukhty,
Maukah engkau hidup sengsara?!
Jika aku telah bekerja,
Namun hasilnya tak seberapa,
Pakaianmu yang baru hanya satu atau dua,
Uang makan hanya cukup sepiring berdua,
Rumahmu hanya sepetak 2x2,
Isinya pun cuma kasur dan almari saja...

Tapi, tapi...
Aku akan berjuang sekuat tenaga,
Bekerja tanpa lelah untuk membuatmu bahagia,
Setidaknya kita mampu tersenyum ditengah lucunya anak2 kita,
Menyandarkan pundak2 kita,
Dan merenungi bahwa indahnya dunia
Adalah dengan perjuangannya...
Denganmu,
Ya bersamamu.

***
Bumi parahyangan,
13 Syawwal 1434 H
ام عبدالله سفا نه

Minggu, 18 Agustus 2013

Nasihat Indah dari Seorang 'Ulama ttg Negeri Kinanah (Mesir)

Seruan dari Masjid Nabawi untuk Rakyat Mesir: Kembalilah ke Rumah-rumah Kalian


بسم الله الرحمن الرحيم

Mesir

Syaikhuna Al-’Allaamah DR. Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi hafizhahullah berkata pada majelis beliau di Masjid Nabawi, Madinah, kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

“Terjadinya banyak pembunuhan termasuk tanda-tanda kiamat, apa yang terjadi saat ini secara khusus di negeri-negeri muslim dan di dunia internasional termasuk tanda-tanda kiamat, yaitu banyaknya pembunuhan yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Terkadang pembunuh tidak tahu kenapa ia harus membunuh, ia melihat manusia melakukan sesuatu maka ia pun ikut membidikkan senjatanya sebagaimana kondisi orang-orang dari suku terasing Arab yang selalu berteriak layaknya binatang dan saling membunuh antara satu dengan yang lainnya hanya demi revolusi pemberontakan, sepotong roti, rasa lapar atau karena membela seorang tokoh, padahal bisa jadi tokoh tersebut adalah seorang thagut.

Dan semua yang mati dianggap syahid meski seorang Yahudi, Nasrani atau musyrik penyembah kubur, semua syahid menurutnya, yaitu menurut seorang –yang sayang sekali ia dianggap ulama oleh media, yang umurnya sudah sangat tua- ia selalu berbicara ngawur bahwa (orang-orang yang terbunuh karena revolusi pemberontakan, sepotong roti, rasa lapar atau karena membela seorang tokoh) adalah syuhada, bahkan ia meminta untuk mendapatkan kesyahidan seperti mereka, dan ini –kita berlindung kepada Allah- adalah penyimpangan dan kesesatan.

Sayangi dirimu wahai Akhi, sembahlah Robbmu, kembalilah kepada Allah ‘azza wa jalla, apalagi Anda sudah berumur 90 tahun lebih, meskipun semuanya pasti mati tanpa melihat usia tua atau muda. Akan tetapi engkau telah menghiasi kebatilan sehingga nampak sebagai kebenaran dan engkau melampaui batas dalam perkara ini, maka berhati-hatilah wahai Ikhwan.

Berdoalah kepada Allah untuk negeri-negeri Islam yang tersebar padanya kekacauan-kekacauan ini, dan berdoalah kepada Allah agar melindungi negeri-negeri kaum muslimin dari berbagai malapetaka ini, dimana seorang pembunuh tidak tahu kenapa ia membunuh dan yang terbunuh juga tidak tahu kenapa ia dibunuh, akan tetapi ia akan berdiri di hadapan Allah ‘azza wa jalla sambil membawa kepalanya dengan kedua tangannya dan mengatakan kepada pembunuh “Kenapa engkau membunuhku?”

Kemudian, kenapa engkau menambah kekacauan (demonstrasi) yang begitu banyak manusia telah terlibat ini, maka di manakah agama, di manakah Islam, di manakah akalmu?!

Wahai Akhi, tatkala Sumayyah terbunuh dengan cara yang keji, kaum muslimin tidak melakukan demonstrasi dan turun serta berteriak-teriak di jalan-jalan. Tatkala orang-orang Yahudi berusaha membunuh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, kaum muslimin tidak melakukan demontrasi, tetapi menegakkan jihad di jalan Allah dan mengeluarkan Yahudi dari Madinah dengan perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Permasalahannya, dengan demonstrasi ini, kalian memenuhi lapangan-lapangan dengan laki-laki dan wanita, dan terjadilah penindasan dan pelanggaran kehormatan, perzinahan, khamar, kurangnya rasa malu, nyanyian dan ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan wanita, apakah ini dari agama Allah?!

Demi Allah, sesungguhnya Barat telah menipu kalian wahai orang-orang yang telah mati hatinya, yang berteriak-teriak di lapagan-lapangan seperti keledai.
Bertakwalah kepada Allah, kembalilah ke rumah-rumah kalian -sampaikan kepada mereka risalah ini wahai hadirin, katakan kepada mereka- hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan kembali ke rumah-rumah mereka, dan tetap tinggal di rumah-rumah mereka, daripada berteriak-teriak di jalanan.
Bertakwalah kepada Allah di bumi Kinanah, yang demi Allah bumi yang kami anggap mulia, akan tetapi banyak penduduknya yang tidak memuliakannya, andaikan mereka memuliakannya maka tentunya mereka tidak akan melakukan perbuatan ini.

Aku mohon kepada Allah agar melindungi mereka dari kejelekan fitnah ini, dan agar mengembalikan mereka kepada kebenaran dan menjauhkan mereka dari para pembuat onar di antara mereka, yang selalu mengobarkan kekacauan yang berbahaya ini.

Saat ini Barat, yaitu Amerika dan selain mereka mengatakan bahwa, “Kami yang akan mendamaikan antara kelompok-kelompok Islam yang bertikai.” Maka kalianlah yang menyebabkan mereka berani memasuki negeri kalian.

Masya Allah, sampai Yahudi penjajah Palestina pun berkata, “Kami akan masuk dan mendamaikan antara kelompok yang bertikai di negeri tersebut.”
Wahai manusia, kembalilah ke rumah-rumah kalian maka akan selesai masalah ini, dan bersabarlah menghadapi pemerintah kalian.
Benar, kami mengingkari kudeta militer yang mereka lakukan terhadap pemerintah sebelumnya, apa yang mereka lakukan adalah kebatilan. Akan tetapi setelah mereka berkuasa maka wajib bagi kita untuk diam, walaupun boleh kita menuntut dikembalikannya kekuasaan kepada yang berhak tetapi dengan cara yang syar’i, bukan dengan cara mengerahkan masa, membunuh dan menduduki berbagai fasilitas umum.
Adanya kelompok-kelompok yang berpecah ini sejatinya adalah kebatilan, semuanya adalah taklid kepada Yahudi dan Nasrani, meskipun mereka menamakan diri dengan kelompok Islam. Akan tetapi aku katakan, mereka tidak punya pilihan kecuali hendaklah mereka bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Kemudian, menurut prinsip kelompok mereka (yang membolehkan pemilu) –meskipun aku tidak percaya dengan pemilu- hendaklah mereka bersabar menunggu pemilu berikutnya, sehingga mereka bisa memilih pemimpin selainnya. Walaupun hakikatnya sistem pemilu ini adalah thagut, aku tidak mempercayainya (hanya demi memperkecil mudarat).

Akan tetapi wahai Ikhwan, sampaikan kepada mereka (kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam di Mesir), hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dalam menjaga darah kaum muslimin, dalam melindungi negeri mereka yang terjajah, negeri Kinanah.

Sampaikan kepada mereka risalah ini, kembalilah kepada akal sehat kalian, demi Allah tidak mungkin ada yang melakukan ini anak kecil, orang gila dan orang bodoh. Demonstrasi-demonstrasi ini adalah kerjaannya orang bodoh, orang gila dan tidak memiliki akal sama sekali, setiap mereka berteriak mendukung fulan, hidup fulan, jatuh fulan. Kita mohon kepada Allah ‘afiyah dan keselamatan.

Saudara-saudara kita yang menjauhi fitnah ini –segala puji hanya bagi Allah- mereka mengajak kepada agama Allah dan kepada sunnah, dan sampai hari ini mereka selamat dari ketergelinciran ke dalam fitnah ini dan selamat dari keterlibatan dalam membunuh kaum muslimin dan non muslim (yang belum pantas dibunuh) .

Aku mohon kepada Allah Al-Karim untuk menganugerahkan kebaikan kepada seluruh negeri kaum muslimin, merahmati mereka dan menyatukan kalimat mereka di atas tauhid.
Kembalilah kepada Sunnah wahai penduduk Kinanah (Mesir), kembalilah kepada tauhid, hancurkan kuburan yang disembah selain Allah, tinggalkan hizbiyah (fanatisme golongan) dan kelompok-kelompok sesat. Kembalilah kepada Rabb kalian, dan bersatulah dalam merealisasikan Laa ilaaha illallah dan Muhammadur Rasulullah.
Hendaklah kalian (hadirin) menyampaikan seruan ini meskipun hanya melalui sebagian website. Aku mohon kepada Allah agar menganugerahkan kebaikan bagi kaum muslimin di setiap tempat.

وصلّى الله وسلّم وبارك على نبيِّنا مُحمّد وعلى آله وصحبه أجمعين

Diterjemahkan secara makna dari nasihat Syaikhuna Al-‘Allamah Shalih As-Suhaimi hafizhahullah pada majelis beliau di Masjid Nabawi Madinah, kota Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, yang ditranskrip oleh Abu AbdirRahman Usamah jazaahuLlaahu khayron.

COPAS :

Rabu, 14 Agustus 2013

Mampukah kita untuk tdk menceritakan kebaikan2 ???


InsyaaAllah tidak mengapa menampakkan amal shalih agar dicontoh orang lain. Akan tetapi, salah satu ciri ikhlas adalah gemar menyembunyikan amal kebaikan, sebagaimana dilakukan para sahabat Nabi dan ulama salaf (generasi awal). Dan ini juga dilakukan sebagian ulama kita diabad ini...

Ust. Firanda Andirja, MA (mahasiswa doktoral Univ Islam Madinah, pengasuh kajian ilmu di Masjid Nabawi) bercerita tentang Syaikh Prof Dr. Abdurrazzaaq al-Abbad (professor Aqidah Univ Islam Madinah, pengasuh kajian ilmu di Masjid Nabawi).

Ustadz mengatakan bahwa beliau dan syaikh Abdurrazzaaq bersahabat sudah lama, mulai beliau S-1 di Madinah, hingga sebentar lagi lulus S-3. Mereka berdua juga rutin mengisi kajian Live dari Madinah di Radio Rodja setiap pekan, dalam bahasa arab (syaikh) dan terjemah Indonesia (ustadz).

Bersahabat sudah lama... Akan tetapi (seingat ustadz), tidak satu kali pun Syaikh bercerita ttg amal shalih yg pernah dilakukannya. Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun... kuatkah kita utk tidak menceritakan amal shalih kita pada sahabat dekat?

Ustadz juga bercerita, bahwa syaikh Abdurazzaaq pernah berjihad di Afghanistan... beliau juga mengelola bantuan dari rakyat Saudi utk mujahidin dan rakyat Afghan... akan tetapi ustadz tahu hal tersebut bukan dari syaikh Abdurrazzaaq, tapi dari syaikh lainnya di Madinah...
Syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah bercerita...

Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun... kuatkah kita utk tidak berkata "saya pernah berjihad di sini-situ" pada sahabat dekat? Ustadz juga mengatakan syaikh jg pernah berdakwah ke pedalaman Afrika, jauh dari nyamannya suasana tanah suci... akan tetapi, sekali lagi, ustadz tahu hal tersebut bukan dari syaikh Abdurrazzaaq, tapi dari syaikh lainnya di Madinah...
Syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah bercerita...

Kalau kita bersahabat hampir 10 tahun... kuatkah kita utk tidak berkata "saya pernah berdakwah ke sini dan situ" pada sahabat dekat? Diri kita.. mungkin baru mengisi kajian sekali, di RT sebelah, kita sudah merasa paling berjasa di muka bumi... Syaikh Abdurrazzaaq pernah 2x datang ke Indonesia, mengisi kajian di Istiqlal, dan setiap kali datang masjid full sesak, masjid Istiqlal penuh sampai lantai tertinggi (lt. 5 kalau gak salah), dgn peserta 100.000+ orang, dan divideokan (banyak di Youtube)... Dan saat ustadz bercerita ttg hal tersebut di Madinah, syaikh lain di Madinah terkaget-kaget mendengar banyaknya jumlah hadirin di masjid terbesar Asia Tenggara tersebut... kenapa? Karena syaikh Abdurrazzaaq tidak pernah cerita juga kepada syaikh syaikh lain di Madinah... yg mereka tahu hanyalah, Syaikh Abdurrazzaaq pergi ke Indonesia dan mungkin diselingi dakwah, titik. Kita ceramah sekali saja, (dipaksa) kultum tarawih, sudah merasa hebat, cerita sana cerita sini...

Kuatkah kita untuk tidak bercerita bahwa kita pernah ceramah 2x di hadapan 100.000+pendengar?

Ustadz juga bercerita, suatu ketika ada orang buta menemui syaikh di Madinah. Syaikh terlihat sangat menghormati orang buta tersebut, dikecupnya kening sang buta, lalu mereka mengobrol bersama... Setelah selesai, ustadz bertanya "tadi ada apa?". Lalu syaikh Abdurrazzaaq menjawab "tadi ada orang buta ingin meminta izin mencetak buku tulisan saya". Dan selesailah perbincangan. Usut punya usut, ternyata orang buta tersebut adalah Syaikh Shalih as-Suhaimi, salah seorang syaikh senior di Masjid Nabawi yang memang Allah takdirkan buta... beliau adalah guru syaikh Abdurrazzaaq, dan beliau meminta izin utk mencetak buku syaikh Abdurrazzaaq utk diajarkan di masjid Nabawi... Dan apa penjelasan syaikh Abdurrazzaaq? "Tadi ada orang buta ingin meminta izin mencetak buku tulisan saya"... SubhaanAllah... lihatlah betapa rendah hatinya jawaban ini... sama sekali tidak ada nada meninggikan diri... tidak berbangga bahwa guru  kita yang seorang syaikh sepuh di Madinah sekarang "berguru" pada kita... tidak berbangga bahwa buku kita dipakai mengajar di Masjid Nabawi... Jika kita jadi beliau, akankah kita menjawab "tadi ada orang buta meminta izin untuk mencetak buku saya"...?? Ataukah kita akan menjawab, "tadi guru saya, seorang syaikh senior di Madinah, datang minta izin ingin mencetak buku saya untuk diajarkan di Masjid Nabawi"...??

Adapun kita, mungkin artikel (bukan buku) tulisan kita dipajang di dinding masjid rumah saja sudah bangga setengah mati, lalu cerita sana-sini...

Sudahkah niat kita ikhlas? Sudahkah Allah menjadi tujuan kita? Silakan direnungkan kembali.

Semoga bermanfaat.
Disarikan dari kajian "Mengasah Keikhlasan" oleh
Ust. Firanda Andirja, Masjid Raya Cipaganti,
Bandung, 14 Juli 2013.


[COPAS dari Grup WA]

Minggu, 11 Agustus 2013

Kajian Umum Pranikah

Jleb bgt, cocok utk para Jomblo (termasuk saya),,,

Kuliah Umum Pranikah

13 Juli 3013, Mesjid UI Depok 

Ustadz Arsalsjah & Ustdzah Dewi Yulia

Bismillahirrohmanirrohim

Suatu ketika ada seorang pemuda sholih juga seorang mujahid, yang berkata kepada ayah dan ibunya, "Duhai ayah dan ibu carikan aku seorang calon istri". Kemudian ayah dan ibunya mencarikanya seorang wanita sholihah. Setelah pemuda itu dikabarkan bahwa kedua orang tuanya sudah menemukan calon istri untuknya, maka ia pun meminta untuk dikenalkan dan dilamarkan. Si pemuda itu begitu percaya pilihan kedua orang tuanya yg tidak akan memberikan anaknya keburukan.


Pada malam hari pernikahan, ternyata ia menemukan "cacat" atau sesuatu yg ia tidak sukai dari istrinya itu. Tetapi akhlaknya menghalanginya untuk berkata yg menyakiti hati istrinya itu. Namun, sang istri dapat melihat raut wajah suaminya yg berbeda itu. Kalimat yg dikatakan seorang istri yang sholihah itu sebagai respon atas ketidaksukaan suaminya itu adalah,  
wa 'aasyiruuhunna bil-ma'ruf, fa in karihtumuuhunna fa 'asaa an takrahuu syai'aw wa yaj'alallaahu fiihi khairan kasiiraan
QS. An Nisa: 19
"Dan bergaulah dengan mereka dengan cara yg patut*, jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya"

Akhirnya setelah ia mendengar jawaban dari istrinya itu, ia pun meyakini bahwa apa saja yg Allah katakan juga janjikan pasti benar. Malam itu pun terjadi sesuatu yg harusnya terjadi.

*Patut / ma'ruf= Sesuatu yg baik, istimewa menurut syariat juga menurut kebiasaan yg ada, jadi lebih spesial dari sekedar pengertian khair atau baik.

Beberapa hari setelah pernikahan mereka ternyata ada panggilan jihad untuk setiap pemuda muslim. Kemudian ia pun pergi ke medan jihad, namun sebelumnya ia berwasiat kepada istrinya, "jagalah kehormatanmu dan peliharalah rizki yg Allah anugerahkan kepada kita"


>>Biasakan untuk para suami ketika harus pergi jauh untuk berwasiat karena tak akan pernah tahu apa yg akan terjadi dalam takdirNya

Ternyata waktu yg ditempuh suaminya dalam berjihad itu bukan sehari, seminggu, sebulan, atau setahun. Akan tetapi sebelas tahun. Woow... lamaaa yah ^^ Ketika musuh sudah tertaklukkan dan meraih kemenangan dalam sebelas tahun perjuangan maka ia pun kembali ke kampung halamannya. 
Ayoo tebak kemana tempat yg ia tuju pertama kalinya?

 Warung di pasarkah karena lapar?? 
Atau rumah karena rindu yg begitu menggebu??

Ternyata ia menuju Masjid di kampungnya itu. Disana ia melihat ada kumpulan dari ustadz tua yg dulu ia kenal termangguk-mangguk mendengar uraian seseorang, karena penasaran ia menghapiri kumpulan merek. Tenyata yg ia temukan adalah seorang anak yg usianya sekitar 10 tahun tengah menjelaskan uraian ayat juga hadist dengan begitu fasihnya.


Rasa penasaran tentang siapa anak itu, membuatnya mengikuti anak tersebut sampai setiap langkah pulang anak itu. Setiap langkah anak itu membuatnya seolah kembali pada masa 11 tahun lalu, sebab jalan yg ia lalui sama dengan jalan2 yg pernah ia lalui dulu. Hingga anak itu berhenti di depan rumah yg ia tinggalkan dulu dan ada seorang wanita yg begitu ia kenal wajahnya, tengah menjawab salam dan membukakan pintu untuk anak itu.


Dalam campur aduknya rasa penasaran kenyataan ditambah akan ketidak tahuannya, ia memutuskan untuk juga masuk ke dalam rumah itu.

Ayoo klo jaman sekarang, adegan apa yg bisa ditebak??
Pasti omelan, prasangka, tentang anak siapa itu? Dll
*overdrama queen ^^

Tapi ternyata ia, mengetuk pintu sembari memberi salam yg disambut jawaban salam dari anak kecil juga istrinya itu. Ternyata 11 tahun tetap membuat mereka saling ingat satu sama lain, meski dahulu tak pernah ada foto, tlp, hp, Whatsapp, facebook, dll ^^ Kemudian ia pun memeluk rindu istrinya, dan bertanya tentang anak kecil yg juga masuk sebelum kedatangannya..  Dijawab oleh istrinya, "dia adalah rizki yg diberikan Allah kepada kita yg telah aku jaga seperti yg engkau seperti pesan yg engkau katakan sebelum pergimu."

Ehmm... so sweet,

Ga kebayang,, 11 tahun tanpa kabar entah suaminya itu masih hidup atau tinggal nama. Hamil-melahirkan-mendidik anak dalam sendirinya. Belum lagi kesetiaannya. Plus anaknya ternyata jadi anak sholih yg dikenal dg luasnya ilmu, Imam Malik (guru Imam Syafi'i) ehmm... dahsyat. Seketika itu suaminya teringat-ingat An Nisa 19 yg dibacakan istrinya dulu... dan ternyata Allah tak pernah ingkar janji, Allah membuktikan balasan yg begitu manis akan kesabaran, kelapangan, juga keikhlasanya menerima istrinya itu.


Kesempurnaan hanya milik Allah. Ketika menikah nanti harus menyiapkan diri dengan ketidaksempurnaan pasangan kita. Sebab jika mencari yg sempurna pasti tak akan pernah ada. Tetapi pernikahan itu ada untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Jika ia sempurna tanpa sedikitpun kelemahan maka apa arti adanya kita di sisinya ? Jika kita mencintainya karena kelebihan atau sempurnanya maka setiap orang di luar kita pun bisa melakukannya, tetapi hanya ada satu yg bisa mencinta dan bersabar dalam lemahnya kita yaitu pasangan yg menikahi kita.


Carilah pasangan iman kita, ukurannya iman. Dalam pernikahan harus dan butuh ada kesertaan iman. Jika ujian hadir maka imanlah yg mengokohkan pelayaran dalam badainya. Kesetiaan iman menghasilkan kebahagiaan dunia dan akhirat.


Hakikat pernikahan itu memperbaiki keimanan juga meningkatkan iman. Hadistnya menikah itu mengenapkan separuh agama. Artinya jika setelah menikah keimanan kita menurun maka perlu dicek, kemungkinan ada yg salah dalam pilihan atau prosesnya.


Maka dari itu setelah menikah sepasang pengantin di sunnahkan untuk sholat dua rakaat kemudia sang suami berdoa agar Allah menyatukan dalam kebaikan dan jika pun berpisah itu juga karena kebaikan. Begitupun doa yg disunnahkan untuk kedua mempelai dari hadirin yg memiliki arti bahwa dalam pernikahan tidak selamanya diisi dg kebahagiaan tetapi dalam bahagia Allah menurunkan berkahNya juga ketika ada ujian dalam kesabaran Allah pun senantiasa memberkahi keduanya.


Tujuan pernikahan;
  1. Ridho Allah dg saling menasehati dlm kebenaran 
  2. Saling menasehati dalam kesabaran
  3. Saling menasehati dalam berkasih sayang Ar~Rum 21
  4. Keturunan 
  5. Membentuk masyarakat terkecil
Kedewasaan seseorang dilihat dari kemampuan ia membangun relasi. Relasi dengan pasangan, anak, mertua, ipar, nenek/kakek, dll. Sedangkan kematangan seseorang ditentukan oleh kematangan spiritualnya.

Pendidikan anak bukan dimulai sejak ia bayi atau dalam kandungan tetapi dimulai dari memilih pasangan. Pilih ia yg tak hanya menjadi pasangan untuk diri kita tetapi cari ayah/ibu untuk anak-anak kelak. Mengapa?? Karena pembentukan bagaimana anak kelak bergantung kepada siapa orang tuanya. Contoh kecerdasan seorang anak pada umumnya diwariskan dari kecerdasan ibunya.


Membahagiakan anak dengan membahagiakan pasangan kita. Tidak ada anak yg akan berbahagia jika orang tuanya bersedih. Oleh karenanya perlu dibangun hubungan yg kuat antara suami dan istri. Meski kecenderungan istri terkadang lebih dominan ke arah anak tetapi surga seorang istri ada dalam ridhanya suami, sehingga mempererat hubungan dg suami lebih diutamakan.


Posisi kedua yg harus dihargai oleh suami setelah Allah dan RasulNya untuk beroleh surgaNya adalah ibunya. Tetapi posisi kedua yg harus dihargai seorang istri setelah Allah dan RasulNya untuk beroleh surga adalah suaminya.


Arti lainnya bagi seorang istri, suami itu bosnya sedang ibu mertua itu big bosnya.. 

Berdoalah mendapat pasangan yg menyenangkan hati juga mertua yg lebih menyenangkan hati ^^

[Copas dari Grup WA]

Kali ini 'Iedul Fithri nya beda (Sedih)

3 hari yang lalu, tepatnya 1 Syawwal 1434 H seluruh umat islam merayakan hari besarnya yaitu 'Iedul Fithri, 

Ada sebagian orang yang sedih karena blm tentu berjumpa dgn Ramandhan berikutnya, blm tentu terampuni dosa2nya, blm tentu mendapat predikat taqwa, blm tentu dpt trs menahan amarahnya, blm tentu bs istiqomah dlm kualitas dan kuantitas ibadahnya,, dll...

Ada pula sebagian yang senang krn bs silaturrahmi ketemu bnyk sodara2, dah ga puasa, bisa mudik, dpt THR, wktunya jalan2 ke t4 rekreasi, beli baju baru, banyak kue lebaran dirmh, libur kerja/sekolah, dll...

Tapi dibalik itu semua, ada beberapa org yg mengalami kesedihan yg lebih, salah satunya ditinggal oleh orang2 yg disayangi utk selama2nya,, hikksss...hikss... #tahan air mata,, termasuk sy yg Lebaran kali ini sdh tidak lengkap lagi (biasanya ada 6 org kel inti), papa -rahimahullaah- sdh mendahului pergi utk slama2nya,,, beda bgt, rasanya ga ada bahagia2nya lebaran ini, kyk blm ngeh klo papa -rahimahullaah- sdh ga ada #lap air mata,,, tapi mencoba utk melihat nasib2 sodara2 muslim yg lain,, yg kehilangan bukan hanya sy, tp yg lain jg ada yg lbh sedih, bhkn kehilangan hampir smua anggota keluarganya, jd inget sodara2 muslim di Suriah, Mesir, Palestina, dll,,,bhkn dgn cara yg tdk manusiawi, tp baliknya bhw setiap Muslim hrs percaya, bhw smua ni tdk lepas dr Taqdir Allahu Ta'ala...

Semoga Allah berikan ganti dgn yg lbh baik dr keadaan ini, Alhamdulillaah 'ala kulli haal...

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

Artinya : 
“Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku.” (QS. Nuh : 28)

Rabu, 07 Agustus 2013

status yang ngena bgt, terutama bagi SAYA

Cuma menulis ulang dari status teman FB skaligus rekan ditempat kerja yg sama yaitu Mas Tangguh Abu Shafiy Abdurrazaq, yang sudah dikarunia seorang putra, Barakallaahu fiykum...
Pas baca, rasanya jleb bgt, ngena, dalam, ya sbg pengingat utk kita smua, terutama diri ini yg susah bgt menjaga keikhlasan...
Allahul Musta'an...baru2 buka fb banyak yah status update di dini hari..ada yang bilang disini rame..ada yang bilang isi kajiannya mantep..ada yang bilang ketemu temen2 saat i'tikaf..bahkan sendirianpun tetep di update..ya subhanallah.. sungguh para ahli ibadah terdahulu ketika beribadah belomba-lomba menyembunyikannya.. bisa kita lihat salah satu contohnya Amir bin Abdillah Attamimi rahimahullah atau Ar-Rabi bin Khutsaim rahimahullah.. sungguh mereka justru takut kalo2 mereka saat beribadah diketahui oleh orang lain...hatta yg mengetahuinya itu saudara atau ibunya sendiri.. coba cari nyak biografi mereka..untuk dijadikan contoh yg lebih baik lagi... "puncak org yg zuhud ada delapan org dan yg terdepan adalah Amir bin Abdillah At-tamimi" (Alqalamah bin Martsad)

Jazakallaahu khoyron Mas Tangguh, smoga Allah slalu menjaga Mas Tangguh dan keluarga, tetap istiqomah didalam sunnah, aamiin..

*Copas di http://www.facebook.com/tangguh.rokhman?fref=ts dgn sedikit perubahan pengetikan pada ejaan

Mumpung mau Lebaran, apa yg sebaiknya diucapkan ?


Tahukah Anda ???

Arti Minal Aidin Wal Faizin bukanlah Mohon Maaf Lahir & Batin

Terjemahan frase  ini adalah : Dari orang yang kembali dan orang-orang yang menang..
Frase yg tidak termasuk do'a dan ungkapan permohonan maaf.

Dalam keseharian orang orang Arab, salam yang mereka ucapkan dihari raya adalah :
"Kullu aam wa antum bikhair" (Semoga kebaikan menyertaimu sepanjang tahun) 
atau sering juga terdengar kalimat "Taqabbalallahu minna waminkum" 

Kalimat "Taqabbalallahu minna wa minkum" merupakan kalimat terbaik yang dicontohkan oleh Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian ucapan ini ditambahkan oleh para sahabat dengan kata-kata : 
"Shiyamana wa Shiyamakum"
Yang artinya : "Puasaku dan puasamu"
Sehingga kalimat lengkapnya menjadi :
"Taqabbalallahuminna wa minkum,Shiyamana wa Shiyamakum"

Jadi, mulai sekarang mari kita biasakan mengganti ucapan " Minal Aidin Wal Faizin" dengan ucapan "Taqabbalallahuminna wa minkum,Shiyamana wa Shiyamakum" :)

Referensi Hadist :
 
Jubair bin Nufair berkata :
“Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. (Al Hafidh Ibnu Hajar dalamFathul Bari [2/446] Dalam 'Al Mahamiliyat' dengan Isnad yang Hasan)


Muhammad bin Ziyad berkata :
“Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : 'Taqabbalallahu minnaa wa minka” (Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259)


Dlm tulisan arab:

تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ  كُلُّ عَامٍ وَ أَنْتُمْ بِخَيْ

Selasa, 06 Agustus 2013

Sedikit Nasehat di Puasa Hari ke 28 Ramadhan 1434 H

Nasehat yang Indah dari Imam Asy-Syafi'i Rahimahullahu Ta'ala :




أحـب الصالحيـن ولسـت منهـم
لعلـي أن أنـال بـهـم شفـاعـة
وأكـره مـن تجارتـه المعاصـي
ولـو كنـا سـواء فـي البضاعـة




“Uhibbu asshalihiina wa lastu minhum
La’alli an anaala bihim syafa’ah
Wa akrahu man tijaratuhu al maashii
Wa lau kunnaa sawa’an fil bidha’ah”




"Aku mencintai orang-orang shalih walaupun aku bukan bagian dari mereka,
Semoga dengan kecintaanku itu aku mendapat syafaat mereka
Dan aku membenci orang yang maksiat adalah perniagaannya,
Walaupun kami sama saja dalam barang dagangannya."