Kuliah Umum Pranikah
13 Juli 3013, Mesjid UI Depok
Ustadz Arsalsjah & Ustdzah Dewi Yulia
Bismillahirrohmanirrohim
Suatu ketika ada seorang pemuda sholih juga seorang mujahid, yang
berkata kepada ayah dan ibunya, "Duhai ayah dan ibu carikan aku seorang
calon istri". Kemudian ayah dan ibunya mencarikanya seorang wanita sholihah.
Setelah pemuda itu dikabarkan bahwa kedua orang tuanya sudah menemukan
calon istri untuknya, maka ia pun meminta untuk dikenalkan dan
dilamarkan. Si pemuda itu begitu percaya pilihan kedua orang tuanya yg tidak akan memberikan anaknya keburukan.
Pada malam hari pernikahan, ternyata ia menemukan "cacat" atau
sesuatu yg ia tidak sukai dari istrinya itu. Tetapi akhlaknya
menghalanginya untuk berkata yg menyakiti hati istrinya itu. Namun, sang
istri dapat melihat raut wajah suaminya yg berbeda itu. Kalimat yg dikatakan seorang istri yang sholihah itu sebagai respon atas ketidaksukaan suaminya itu adalah,
wa 'aasyiruuhunna bil-ma'ruf, fa in karihtumuuhunna fa 'asaa an takrahuu syai'aw wa yaj'alallaahu fiihi khairan kasiiraanQS. An Nisa: 19
"Dan bergaulah dengan mereka dengan cara yg patut*, jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya"
Akhirnya setelah ia mendengar jawaban dari istrinya itu, ia pun
meyakini bahwa apa saja yg Allah katakan juga janjikan pasti benar.
Malam itu pun terjadi sesuatu yg harusnya terjadi.
*Patut / ma'ruf= Sesuatu yg baik, istimewa menurut syariat juga
menurut kebiasaan yg ada, jadi lebih spesial dari sekedar pengertian
khair atau baik.
Beberapa hari setelah pernikahan mereka ternyata ada panggilan jihad
untuk setiap pemuda muslim. Kemudian ia pun pergi ke medan jihad, namun
sebelumnya ia berwasiat kepada istrinya, "jagalah kehormatanmu dan
peliharalah rizki yg Allah anugerahkan kepada kita"
>>Biasakan untuk para suami ketika harus pergi jauh untuk
berwasiat karena tak akan pernah tahu apa yg akan terjadi dalam
takdirNya
Ternyata waktu yg ditempuh suaminya dalam berjihad itu bukan sehari,
seminggu, sebulan, atau setahun. Akan tetapi sebelas tahun. Woow...
lamaaa yah ^^ Ketika musuh sudah tertaklukkan dan meraih kemenangan dalam sebelas
tahun perjuangan maka ia pun kembali ke kampung halamannya.
Ayoo tebak
kemana tempat yg ia tuju pertama kalinya?
Warung di pasarkah karena lapar??
Atau rumah karena rindu yg begitu menggebu??
Ternyata ia menuju Masjid di kampungnya itu. Disana ia melihat ada
kumpulan dari ustadz tua yg dulu ia kenal termangguk-mangguk mendengar
uraian seseorang, karena penasaran ia menghapiri kumpulan merek. Tenyata
yg ia temukan adalah seorang anak yg usianya sekitar 10 tahun tengah
menjelaskan uraian ayat juga hadist dengan begitu fasihnya.
Rasa penasaran tentang siapa anak itu, membuatnya mengikuti anak
tersebut sampai setiap langkah pulang anak itu. Setiap langkah anak itu
membuatnya seolah kembali pada masa 11 tahun lalu, sebab jalan yg ia
lalui sama dengan jalan2 yg pernah ia lalui dulu. Hingga anak itu
berhenti di depan rumah yg ia tinggalkan dulu dan ada seorang wanita yg
begitu ia kenal wajahnya, tengah menjawab salam dan membukakan pintu
untuk anak itu.
Dalam campur aduknya rasa penasaran kenyataan ditambah akan ketidak
tahuannya, ia memutuskan untuk juga masuk ke dalam rumah itu.
Ayoo klo jaman sekarang, adegan apa yg bisa ditebak??
Pasti omelan, prasangka, tentang anak siapa itu? Dll
*overdrama queen ^^
*overdrama queen ^^
Tapi ternyata ia, mengetuk pintu sembari memberi salam yg disambut jawaban salam dari anak kecil juga istrinya itu. Ternyata 11 tahun tetap membuat mereka saling ingat satu sama lain,
meski dahulu tak pernah ada foto, tlp, hp, Whatsapp, facebook, dll ^^ Kemudian ia pun memeluk rindu istrinya, dan bertanya tentang anak kecil yg juga masuk sebelum kedatangannya.. Dijawab oleh istrinya, "dia adalah rizki yg diberikan Allah kepada
kita yg telah aku jaga seperti yg engkau seperti pesan yg engkau katakan
sebelum pergimu."
Ehmm... so sweet,
Ga kebayang,, 11 tahun tanpa kabar entah suaminya itu masih hidup
atau tinggal nama. Hamil-melahirkan-mendidik anak dalam sendirinya.
Belum lagi kesetiaannya. Plus anaknya ternyata jadi anak sholih yg
dikenal dg luasnya ilmu, Imam Malik (guru Imam Syafi'i) ehmm... dahsyat. Seketika itu suaminya teringat-ingat An Nisa 19 yg dibacakan istrinya
dulu... dan ternyata Allah tak pernah ingkar janji, Allah membuktikan
balasan yg begitu manis akan kesabaran, kelapangan, juga keikhlasanya
menerima istrinya itu.
Kesempurnaan hanya milik Allah. Ketika menikah nanti harus menyiapkan
diri dengan ketidaksempurnaan pasangan kita. Sebab jika mencari yg
sempurna pasti tak akan pernah ada. Tetapi pernikahan itu ada untuk
saling menyempurnakan satu sama lain. Jika ia sempurna tanpa sedikitpun
kelemahan maka apa arti adanya kita di sisinya ? Jika kita mencintainya
karena kelebihan atau sempurnanya maka setiap orang di luar kita pun
bisa melakukannya, tetapi hanya ada satu yg bisa mencinta dan bersabar
dalam lemahnya kita yaitu pasangan yg menikahi kita.
Carilah pasangan iman kita, ukurannya iman. Dalam pernikahan harus
dan butuh ada kesertaan iman. Jika ujian hadir maka imanlah yg
mengokohkan pelayaran dalam badainya. Kesetiaan iman menghasilkan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hakikat pernikahan itu memperbaiki keimanan juga meningkatkan
iman. Hadistnya menikah itu mengenapkan separuh agama. Artinya jika
setelah menikah keimanan kita menurun maka perlu dicek, kemungkinan ada
yg salah dalam pilihan atau prosesnya.
Maka dari itu setelah menikah sepasang pengantin di sunnahkan untuk
sholat dua rakaat kemudia sang suami berdoa agar Allah menyatukan dalam
kebaikan dan jika pun berpisah itu juga karena kebaikan. Begitupun doa
yg disunnahkan untuk kedua mempelai dari hadirin yg memiliki arti bahwa
dalam pernikahan tidak selamanya diisi dg kebahagiaan tetapi dalam
bahagia Allah menurunkan berkahNya juga ketika ada ujian dalam kesabaran
Allah pun senantiasa memberkahi keduanya.
Tujuan pernikahan;
- Ridho Allah dg saling menasehati dlm kebenaran
- Saling menasehati dalam kesabaran
- Saling menasehati dalam berkasih sayang Ar~Rum 21
- Keturunan
- Membentuk masyarakat terkecil
Kedewasaan seseorang dilihat dari kemampuan ia membangun relasi.
Relasi dengan pasangan, anak, mertua, ipar, nenek/kakek, dll. Sedangkan
kematangan seseorang ditentukan oleh kematangan spiritualnya.
Pendidikan anak bukan dimulai sejak ia bayi atau dalam kandungan
tetapi dimulai dari memilih pasangan. Pilih ia yg tak hanya menjadi
pasangan untuk diri kita tetapi cari ayah/ibu untuk anak-anak kelak.
Mengapa?? Karena pembentukan bagaimana anak kelak bergantung kepada
siapa orang tuanya. Contoh kecerdasan seorang anak pada umumnya
diwariskan dari kecerdasan ibunya.
Membahagiakan anak dengan membahagiakan pasangan kita. Tidak ada anak
yg akan berbahagia jika orang tuanya bersedih. Oleh karenanya perlu
dibangun hubungan yg kuat antara suami dan istri. Meski kecenderungan
istri terkadang lebih dominan ke arah anak tetapi surga seorang istri
ada dalam ridhanya suami, sehingga mempererat hubungan dg suami lebih
diutamakan.
Posisi kedua yg harus dihargai oleh suami setelah Allah dan RasulNya
untuk beroleh surgaNya adalah ibunya. Tetapi posisi kedua yg harus
dihargai seorang istri setelah Allah dan RasulNya untuk beroleh surga
adalah suaminya.
Arti lainnya bagi seorang istri, suami itu bosnya sedang ibu mertua
itu big bosnya..
Berdoalah mendapat pasangan yg menyenangkan hati juga
mertua yg lebih menyenangkan hati ^^
[Copas dari Grup WA]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar