Siapa bilang laki-laki yang mencari istri siap sengsara itu salah?! (bahasa org linguistik -kagak cuma engineer yg bisa- #eh)
Bismillaah.
Saya yakin tidak ada orang yang mau hidup sengsara, apalagi seorang wanita yang fitrahnya menyukai harta.
Tapi sebagaimana bergulirnya waktu siang dan malam, sudah sunnatulloh bahwa hidup manusia senantiasa mengalami pergiliran.
Sekeras apapun usaha yang seseorang lakukan, jika Allooh ta'aalaa berkehendak padanya kesulitan -dengan hikmah dan rahmatNya- , mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengalaminya.
Sebutlah jika di awal pernikahan kalian dianugerahi kenikmatan, tapi apakah kalian bisa menjamin kebahagiaan duniawi itu hingga kalian meninggal?!
Let's say: Mungkin kagak sih kalau tiba2 seorang pengusaha kaya raya jadi seorang penjual sayur mayur yang miskin papa?!
Ini bukan masalah rendah diri atau kurang bervisimisi kawan!
Tapi ini tentang kesabaran, yang tidak semua orang mampu menanggalkannya di dada dan hati yang terdalam.
Ini tentang mukmin tidaknya seseorang, yang ketika diuji maka iapun bersabar...
Ini, ini tentang kuat tidaknya seseorang menghadapi ujian,
Tangguh tidaknya wanita saat fitnahnya akan harta semakin besar...
Lalu,
Salahkah, salahkah?!
Jika kemudian mereka bertanya padamu wahai wanita muslimah...
Ukhty,
Maukah engkau hidup sengsara?!
Jika aku telah bekerja,
Namun hasilnya tak seberapa,
Pakaianmu yang baru hanya satu atau dua,
Uang makan hanya cukup sepiring berdua,
Rumahmu hanya sepetak 2x2,
Isinya pun cuma kasur dan almari saja...
Tapi, tapi...
Aku akan berjuang sekuat tenaga,
Bekerja tanpa lelah untuk membuatmu bahagia,
Setidaknya kita mampu tersenyum ditengah lucunya anak2 kita,
Menyandarkan pundak2 kita,
Dan merenungi bahwa indahnya dunia
Adalah dengan perjuangannya...
Denganmu,
Ya bersamamu.
***
Bumi parahyangan,
13 Syawwal 1434 H
ام عبدالله سفا نه
Bismillaah.
Saya yakin tidak ada orang yang mau hidup sengsara, apalagi seorang wanita yang fitrahnya menyukai harta.
Tapi sebagaimana bergulirnya waktu siang dan malam, sudah sunnatulloh bahwa hidup manusia senantiasa mengalami pergiliran.
Sekeras apapun usaha yang seseorang lakukan, jika Allooh ta'aalaa berkehendak padanya kesulitan -dengan hikmah dan rahmatNya- , mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengalaminya.
Sebutlah jika di awal pernikahan kalian dianugerahi kenikmatan, tapi apakah kalian bisa menjamin kebahagiaan duniawi itu hingga kalian meninggal?!
Let's say: Mungkin kagak sih kalau tiba2 seorang pengusaha kaya raya jadi seorang penjual sayur mayur yang miskin papa?!
Ini bukan masalah rendah diri atau kurang bervisimisi kawan!
Tapi ini tentang kesabaran, yang tidak semua orang mampu menanggalkannya di dada dan hati yang terdalam.
Ini tentang mukmin tidaknya seseorang, yang ketika diuji maka iapun bersabar...
Ini, ini tentang kuat tidaknya seseorang menghadapi ujian,
Tangguh tidaknya wanita saat fitnahnya akan harta semakin besar...
Lalu,
Salahkah, salahkah?!
Jika kemudian mereka bertanya padamu wahai wanita muslimah...
Ukhty,
Maukah engkau hidup sengsara?!
Jika aku telah bekerja,
Namun hasilnya tak seberapa,
Pakaianmu yang baru hanya satu atau dua,
Uang makan hanya cukup sepiring berdua,
Rumahmu hanya sepetak 2x2,
Isinya pun cuma kasur dan almari saja...
Tapi, tapi...
Aku akan berjuang sekuat tenaga,
Bekerja tanpa lelah untuk membuatmu bahagia,
Setidaknya kita mampu tersenyum ditengah lucunya anak2 kita,
Menyandarkan pundak2 kita,
Dan merenungi bahwa indahnya dunia
Adalah dengan perjuangannya...
Denganmu,
Ya bersamamu.
***
Bumi parahyangan,
13 Syawwal 1434 H
ام عبدالله سفا نه

Tidak ada komentar:
Posting Komentar