Sabtu, 28 Desember 2013

Nasehat Memilih Jodoh


Dpt Note bagus dr seorg Sahabat 
(merindings bacanya) :

Bismillaah...

Sering ana sampaikan sebelumnya, bahwa seorang lelaki yang sholih, jumlahnya teramat sedikit, apalagi para lelaki penuntut 'ilmu yang sholih, yang hatinya terpaut kepada majelis-majelis ilmu, dan jika dia berumah tangga, maka dia akan mengajak istrinya lebih mengutamakan 'ilmu daripada dunia, setiap ada kesempatan ta'lim atau dauroh, dia mengajak istrinya untuk menghadirinya, membimbing istrinya di atas titian 'ilmu, melindungi istrinya dari sengsaranya dunia, dan sengsaranya akhirat, menjauhkan istrinya dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu

Wahai muslimah, jumlah lelaki sholih itu teramat sedikit... hingga engkau sendiri merasakannya, jangan tertipu, jangan membiarkan dirimu terlena akan janji-janji manis lelaki, kenalilah kesholihannya dengan benar di dunia nyata, bukan dari dunia maya, tidak ada kejelasan mengenali kesholihan dari dunia maya. Wahai wanita bersungguh-sungguhlah dalam berdo'a, memohon petunjuk akan jalan yang lurus, sehingga lurus pula hatimu, ridho akan semua ketetapan dari Robb-mu.

Banyak lelaki yang menyerupai ahlus sunnah, maka kenalilah ahlus sunnah yang sebenarnya, jangan sampai engkau tertipu dan salah memilih, ahlus sunnah bukan hanya dari pakaian, bukan hanya dari perkataan, namun dari perbuatan dan persaksian dari ahlus sunnah lainnya, bahwa fulan adalah ahlus sunnah... ahlus sunnah tidak menyendiri, dia akan berkumpul bersama ahlus sunnah lainnya, sebagaimana berkumpulnya burung-burung dengan sejenisnya.

Wahai muslimah, kehidupan duniamu teramat singkat untuk engkau merusaknya, waktumu di dunia teramat singkat untuk engkau mengumpulkan pahala, sedang kalian yakin dengan pasti bahwa kalian adalah penghuni neraka terbanyak, penghuni surga paling sedikit, maka laluilah sisa hidupmu dengan seorang lelaki yang sholih yang mampu membimbingmu dalam ibadah dan amalmu, berjalan bersama meraih jannah di atas titian sunnah, jangan salah memilih... jangan salah memilih...
 
---------------------------

Rabu, 25 Desember 2013

Hukum pake Smile, Stiker, Ekspresi Wajah, dll












Hukum Menggunakan Smile atau Ekspresi Wajah 
 
Kategori: Fiqh Diterbitkan pada 21 September 2013
 
(Fatwa Asy-Syaikh Doktor Sa'ad Al-Khotslaan hafizohulloh, anggota Kibar Ulama Arab Saudi)
Pertanyan :

ما حكم استخدام الوجوه التعبيرية المعروفة ب( الفيسات) في وسائل التقنية الحديثة ؟

 

"Apakah hukum menggunakan gambar ekspresi wajah yang dikenal dengan (face) dalam sarana tekhnologi modern?"
Jawab :

الذي يظهر أنه لابأس بذلك ؛ وذلك لأنها ليست صورا بالمعنى الشرعي وإنما هي مجرد رموز يؤتى بها للتعبير عن جملة من الكلام .. ، ثم على تقدير أنها صورة فقد ذكر الفقهاء أن الصورة إذا قطع منها ما لا تبقى معه الحياة فلا تكون محرمة ، وقد قال ابن عباس رضي الله عنهما " الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس فلا صورة " وقد روي مرفوعا  ، قال الموفق ابن قدامة رحمه الله : (وإن قطع منه ما لا يبقى الحيوان بعد ذهابه كصدره أو بطنه أو جعل له رأس منفصل عن بدنه لم يدخل تحت النهي لأن الصورة لا تبقى بعد ذهابه فهو كقطع الرأس ( المغني 8/111)  . والله أعلم

"Yang nampak adalah tidak mengapa hal tersebut. Hal ini karena gambar-gambar ekspresi wajah tersebut bukan gambar (makhluk hidup-pen) menurut syari'at, akan tetapi hanyalah sekedar simbol-simbol (rumus-rumus) yang didatangkan untuk mengekspresikan sejumlah perkataan…
 
Kemudian kalaupun itu adalah gambar (makhluk hidup-pen) maka para fuqoha (ahli fikih) telah menyebutkan bahwasanya gambar jika telah dipotong/dihilangkan darinya apa yang kehidupan tidak mungkin tanpanya maka tidaklah haram. Ibnu Abbas radhiallahu 'anhumaa telah berkata, "Gambar adalah kepala, maka jika telah dipotong/dihilangkan kepalanya maka hilanglah (hakekat) gambar", dan juga ini telah diriwayatkan secara marfu'. Al-Muwaffaq Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata : "Jika dipotong bagian yang hewan tidak bisa hidup tanpanya dengan dihilangkannya –seperti dadanya atau perutnya- atau dijadikan kepala yang terpisah dari badannya maka tidak masuk dalam larangan, karena gambar (makhluk hidup-pen) tersebut tidak tersisa (hakekatnya-pen) setelah dihilangkan bagian tersebut. Maka jadilah seperti pemotongan kepala" (al-Mughni 8/111), Wallahu A'lam. (Sumber : http://www.saad-alkthlan.com/text-875)
 
Catatan : Penggunaan gambar-gambar ekspresi wajah diperselisihkan oleh para ulama, karenanya tentu meninggalkannya lebih baik agar keluar dari khilaf para ulama. Kalaupun menggunakannya maka hendaknya jangan menggunakan gambar-gambar ekspresi wajah yang menunjukkan kurangnya rasa malu seseorang. Wallahu A'lam

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 15-11-1434 H / 21 September 2013 M
Abu Abdil Muhsin Firanda
 

www.firanda.com

Kamis, 12 Desember 2013

Yang Mau Menikah, Hafalin ya Do'a ini...



Cara Melindungi Anak sebelum Kelahiran
Cara melindungi anak sebelum kelahiran adalah berdoa sebelum masuk ke kamar pengantin, saat pernikahan dan berdoa ketika hendak jima’. Disunnahkan setelah akad nikah untuk masuk ke tempat istri, memegang ubun-ubunnya dan berdoa:


اللّهَمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَمَا جَبَلْتَهَا عَلَيِهِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan yang Engkau ciptakan kepadanya dan aku berlindung dari kejelekkannya dan kejelekan yang Engkau ciptakan kepadanya” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan dari Amr bin Syua’ib dari ayahnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Bila salah seorang dari kalian membeli seorang budak, hendaklah ia mengucapkan:

اللّهَمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَمَا جَبَلْتَهَا عَلَيِهِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Ketika mendatangi (jima’) dianjurkan membaca doa:

بِسْمِ اللهِ اللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.”

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Bila kalian membaca doa tersebut ketika hendak mendatangi istri, kemudian mempunyai anak, setan tidak bisa memberi bahaya sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari 9/228 dan Muslim 10/5).

Sumber: Tarbiyatul Abna’ (terj.), Syaikh Musthofa al-Adawi, Media Hidayah

diambil dari page Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia

Rabu, 04 Desember 2013

Hak-Hak Allah di Pagi Hari



HAK ALLAH DI PAGI HARI

"Barangsiapa yang bangun di pagi hari & hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak-hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :

  1. kebingungan yang tiada putus- putusnya,
  2. kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya,
  3. kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, 
  4. khayalan yang tidak berujung."  (HR. Imam Thabrani)

Hak-hak Allah di pagi hari :
  1. Bersyukur dengan membaca doa bangun tidur.
  2. Qiyamullail bila bangun sebelum subuh
  3. Shalat subuh berjama'ah di masjid
  4. Tilawah Al Quran 
  5. Dzikir pagi (Al Ma'tsurat)
  6. Shalat dhuha

Semoga kita bisa melaksanakan hak-hak Allah

Jumat, 15 November 2013

Sahabat Qu...


Sahabat Qu@>--...                                            
 
Sahabat yang sesungguhnya, ialah mereka yang selalu mengingatkan kita akan اَللّهُ dan mereka yang akan menggiring kita ke syurga.

Diriwayatkan, bahwa apabila penghuni syurga telah masuk kedalam syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu didunia.
 
Mereka bertanya tentang sahabat-sahabat mereka kepada اَللّهُ : "Yaa Rabb, kami tidak melihat saudara-saudara kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami,...." Maka اَللّهُ  berfirman: "pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah" (Riwayat Ibnul Mubarak dalam kitab "az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Perbanyaklah sahabat-sahabat mu'minmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis: "Jika kalian tdk menemukan aku nanti di syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اَللّهُ  tentang aku: "Wahai Rabb kami, hambamu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di syurga"

”Jadi.. Sahabatku alangkah indahnya aku mengenalmu, orang yg selalu mengingatkan aku kpd ALLAH Subhanhu wa ta'ala..kpd nabi Muhammad, kpd amal sholeh, kpd kebaikan kebaikan..menemukan dirimu adalah karunia kehidupan termegah..

Ya اَللّهُ , aku memohon kepada Mu, karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk taat kepada MU.

Yaاَللّهُ. Aku memohon kpd Mu untuk sahabat2 itu agar Engkau jagalah hati mereka, bimbing, ajari mereka, selamatkan dunianya akheratnya, beri kemudahan, berkahi hidupnya, angkat derajatnya, tambahkan ilmunya, bahagiakan dia, ampuni dosanya, maafkan kesalahannya, berilah pertolongan kpd setiap kesulitan diri dan keluarganya..

Ya اَللّهُ, kekalkanlah persahabatan kami sampai kami bertemu denganMu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

آمِينَ ياَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
.

Sahabatmu..<3({})

Senin, 04 November 2013

Friendship Forever



Agar Persahabatan Tidak Menjadi Permusuhan

Sesungguhnya bukanlah perkara yang gampang untuk membuat relasi persahabatan karena Allah dengan seseorang. Relasi tersebut bukanlah barang yang bisa dibeli…akan tetapi itu adalah anugerah dari Allah dengan sebab usaha pendekatan karena iman.
Karenanya hendaknya kita berusaha untuk menjaga jalinan persahabatan. Yang perlu diingat adalah janganlah kita menganggap sahabat kita adalah malaikat yang tidak pernah bersalah, sehingga setiap kali ia bersalah lantas kita mencelanya. Sikap seperti ini adalah bentuk perenggangan bahkan bisa jadi pemutusan persahabatan, serta bentuk "kurang penghargaan" terhadap karunia relasi persahabatan tersebut yang merupakan anugerah Allah.

Basyaar bin Burod berkata :

ﺇِﺫَﺍ ﻛُﻨْﺖَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﻌَﺎﺗِﺒًﺎ ..... ﺻَﺪِﻳْﻘَﻚَ ﻟَﻢْ ﺗَﻠْﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻻَ ﺗُﻌَﺎﺗِﺒُﻪ

Jika Engkau pada setiap perkara selalu mencela sahabatmu…
Maka engkau tidak menemukan sahabat yang tidak kau cela

ﻓَﻌِﺶْ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﺃَﻭْ ﺻِﻞْ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ...... ﻣُﻘَﺎﺭِﻑُ ﺫَﻧْﺐٍ ﻣَﺮَّﺓً ﻭَﻣُﺠَﺎﻧِﺒُﻪُ

Jika demikian maka hiduplah engkau sendirian…
Atau jalinlah persahabatan dengan saudaramu karena sesungguhnya ia terkadang melakukan kesalahan dan terkadang menjauhi kesalahan.
(Lihat Taariikh Baghdaad 7/610, tahqiq Basyaar 'Awwaad)

Ia juga berkata :

ﻭَﻣَﻦْ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗُﺮْﺿِﻲ ﺳَﺠَﺎﻳَﺎﻩُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ...... ﻛَﻔَﻰ ﺑِﺎﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻧُﺒْﻼَ ﺃَﻥْ ﺗُﻌَﺪَّ ﻣَﻌَﺎﻳِﺒُﻪُ

Dan siapakah yang seluruh perangainya menyenangkan (orang lain)….??
Cukuplah seseorang dikatakan mulia jika aibnya masih terhitung

Yang lain berkata :

ﺗُﺮِﻳْﺪُ ﺻَﺎﺣِﺒًﺎ ﻻَ ﻋَﻴْﺐَ ﻓِﻴْﻪِ ..... ﻓَﻬَﻞِ ﺍﻟْﻌُﻮْﺩُ ﻳَﻔُﻮْﺡُ ﺑِﻼَ ﺩُﺧَﺎﻥِ؟

Engkau ingin memiliki seorang sahabat yang tidak ada kesalahannya sama sekali??
Maka apakah kayu gaharu bisa mengeluarkan harum wanginya tanpa ada asapnya??

Hendaknya kita bersabar dengan kesalahan sahabat kita dengan tetap berusaha menasehatinya….
Akhirnya….selamat menjalin persahabatan karena Allah,
semoga Allah mencintaimu karena persahabatanmu tersebut.

Oleh: Al-Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja, MA

Minggu, 13 Oktober 2013

Haruskan 'Cinta" dulu sebelum Menikah ?



9 Dzulhijah 1434 H / 14 Oktober 2013

Haruskah Pernikahan Didasari Rasa Cinta?
 
(Dengarkan Kisah Nyata Akhwat Gorontalo)-

Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya. 
Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…,Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya. Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami. 
Hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.Mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby. Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu. Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku Boby.
Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu. 
Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun akhirnya tertidur.Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud. Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00 dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami.Dadaku kembali berdetak kencang kala mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.
Hari-hari terus berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, KakArfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merindukannya.Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku. Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit-ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku. Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? kenapa dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau?
Pendengar, jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku.Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah batinku. 
Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah. Aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i. Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya. Kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.
Tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan sholat tahajud. 
Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya. 
Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya. Tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur? kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung juga.”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau bahkan takpernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan. Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. 
Hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku: 
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan inipada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu. Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak? Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah Ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami.
Hari-hari kami lalui dengan bahagia. Kak Arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku. 
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua.
Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu. Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin. Wasallam”

NB : Kisah Nyata dari Akhwat di Gorontalo, Sulawesi UtaraDikutip oleh Abul-Harits dari http://januarpambudi.blogspot.com/2012/08/kisah-akhwat-gorontalo.html dengan sedikit perubahan

Sabtu, 21 September 2013

Saat Memilih...

Bismillaah, aku memilihnya...


[COPAS]

Bismillah

Semangat nikah tanpa didasari ilmu diin, mungkin hanya bahagia sementara di dunia, tapi berpisah di akhirat.

Pilihlah calon suami yg bagus agama & akhlaknya, niscaya engkau akan mendapatkan kebahagiaan tak hanya di dunia, tp juga bsama2 menuju Surga

Menyemangatimu dikala engkau futur, meluruskan dikala engkau salah. Bukankah indah ketika ia bertanya: "sdh baca Qur'an hari ini, sayang?"

Mengamalkan akhlak terbaik kepada sang istri seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, itu lebih romantis dibanding cerita khayal dan dongeng ala barat.

Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu [imam nawawi]

Sebelum menikahi lelaki tampan / perempuan cantik, pikirkan lagi, apakah kita mampu hidup
bersamanya ketika ia telah ompong & keriput?

Ketika memilih orang yang cerdas, meski ia professor sekalipun, tapi tak tahu cara sholat yg benar, sejatinya ia adl org yg bodoh

Maka agama adalah modal utama untuk menikah. 'sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang shalihah'

Romantis bukan dengan mengajakmu nonton ke bioskop, konser, atau acara penuh ikhtilath, tapi dengan mengajakmu pergi ke majelis ilmu ^^

INTINYA Carilah LELAKI yg bisa mengubah hidupmu jadi lebih SHALIHAH, bukan hanya mampu mengubah STATUSMU dari SINGLE menjadi MENIKAH

Wahai wanita, ketahuilah bahwa seorang laki-laki yang benar-benar serius terhadapmu akan datang kepada orang tuamu dengan berkata:

“Pak, saya ingin menikahi putri Bapak, sekarang saya punya penghasilan Rp…../bulan, dst”,

sedangkan laki-laki yang benar- benar serius ingin menghabisimu akan datang langsung kepadamu dengan berkata “Maukah kamu jadi pacarku?”

Rabu, 28 Agustus 2013

dulu, keGALAUan dipenghujung masa SMA...





Terkadang SAKIT melihat SIKAP TAK ADIL dari kau teman. Walau bukan ditujukan untukku . Mengertilah teman, kita sama-sama manusia yang berusaha mencari-terus mencari dan mengamalkan apa yang telah kita dapat. Jika memang itu pilihanmu dan itu pilihannya biarkan ia tetap ada di samping kami. Tetap disamping kami. Seperti dulu, ketika semua tak ada yang mau berada di samping kami, EGOISKAH kami jika kami tetap memilihnya berada di samping kami. Karena apa? Karena kami tahu dia sayang kami. Sejak dulu. Saat semua orang berorientasi pada tujuannya masing-masing.

Kenapa sekarang tiba-tiba ramai saat masalah ini muncul.. hah !
Kemana keramaian itu saat semangat kami berkobar, saat jiwa-jiwa muda kami muncul..

Terlebih
Saat beban dakwah menumpuk di tempat dulu kita bertemu!

Jangan terlalu usik kami dengan pendapat akalmu, bukan dengan ilmu,

Jika memang benar yang kau katakan teman. Mengapa tak tampak satupun pernyataan itu benar.

Jika memang itu ilmu sampaikanlah dengan baik kepada kami bukan dengan tingkah pola seperti itu.

Yah.. karena kami juga makhluk yang miskin ilmu dan bodoh .
Maka kami terus mencari ilmu. Lupakah teman untuk mencari ilmu? Saya yakin tidak.

Cobalah masuki pikiran kami, jelajahi, dan kami yakin, kalian akan sangat mengerti, bukan men-judge, melarang kami untuk berkumpul kembali bersama teman2 seperjuangan kami yg dulu..Iya benar, teman2 kau juga,
kami lelah terdiam. Menyaksikan ini. Tapi Rabb kami menyuruh kami bersabar. Maka kami lakukan. Tapi ingatlah tidak ada yang dapat membatasi gerak dakwah setiap insan .

Kalau ingat tentang perjuangannya dulu, tak pantas rasanya sikap perubahan kalian yang sekarang kepadanya, tenang saja teman, jika memang itu bukan nafsu yang berjalan. Maka kan tampak kemenangan di ujung sana.

Bersama kembali . Kau dan Aku.

*catatan dari teman yang ku cintai karena Allah

Selasa, 20 Agustus 2013

Siap Hidup Susah,, Siapa yang Siap ???



Siapa bilang laki-laki yang mencari istri siap sengsara itu salah?! (bahasa org linguistik -kagak cuma engineer yg bisa- ‪#‎eh‬)

Bismillaah.

Saya yakin tidak ada orang yang mau hidup sengsara, apalagi seorang wanita yang fitrahnya menyukai harta.

Tapi sebagaimana bergulirnya waktu siang dan malam, sudah sunnatulloh bahwa hidup manusia senantiasa mengalami pergiliran.
Sekeras apapun usaha yang seseorang lakukan, jika Allooh ta'aalaa berkehendak padanya kesulitan -dengan hikmah dan rahmatNya- , mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mengalaminya.

Sebutlah jika di awal pernikahan kalian dianugerahi kenikmatan, tapi apakah kalian bisa menjamin kebahagiaan duniawi itu hingga kalian meninggal?!
Let's say: Mungkin kagak sih kalau tiba2 seorang pengusaha kaya raya jadi seorang penjual sayur mayur yang miskin papa?!

Ini bukan masalah rendah diri atau kurang bervisimisi kawan!
Tapi ini tentang kesabaran, yang tidak semua orang mampu menanggalkannya di dada dan hati yang terdalam.
Ini tentang mukmin tidaknya seseorang, yang ketika diuji maka iapun bersabar...

Ini, ini tentang kuat tidaknya seseorang menghadapi ujian,
Tangguh tidaknya wanita saat fitnahnya akan harta semakin besar...
Lalu,

Salahkah, salahkah?!
Jika kemudian mereka bertanya padamu wahai wanita muslimah...

Ukhty,
Maukah engkau hidup sengsara?!
Jika aku telah bekerja,
Namun hasilnya tak seberapa,
Pakaianmu yang baru hanya satu atau dua,
Uang makan hanya cukup sepiring berdua,
Rumahmu hanya sepetak 2x2,
Isinya pun cuma kasur dan almari saja...

Tapi, tapi...
Aku akan berjuang sekuat tenaga,
Bekerja tanpa lelah untuk membuatmu bahagia,
Setidaknya kita mampu tersenyum ditengah lucunya anak2 kita,
Menyandarkan pundak2 kita,
Dan merenungi bahwa indahnya dunia
Adalah dengan perjuangannya...
Denganmu,
Ya bersamamu.

***
Bumi parahyangan,
13 Syawwal 1434 H
ام عبدالله سفا نه