Pengen bgt jd Istri Beriman
Suami yang Marah pada Istrinya
ADA seorang suami marah kepada istrinya seraya berkata, “Aku akan membuatmu susah.”
Sang istri menukas, “Kamu tidak akan mampu melakukannya.”
Masih dalam keadaan marah, suami berkata lagi, “Kenapa aku tidak mampu melakukannya?”
Sang Istri berkata, “Jika kebahagianku ada pada harta atau ada pada dirimu kamu bisa melakukannya. Akan tetapi kebahagiaanku ada pada sesuatu yang tidak engkau kuasai bahkan tidak dikuasai oleh semua manusia.
“Sesungguhnya kebahagiaanku ada dalam keimananku dan imanku ada dalam hatiku dan hatiku tidak ada satupun yang berkuasa atasnya kecuali Rabbku.”
Maka tersenyumlah suaminya, seraya berkata, ”Karena sebab inilah aku mencintaimu, wahai sebaik baik perempuan dan secantik cantik perempuan.”
Coretan Ena...
...engkau adalah penulis buku 'catatan amalmu' yang akan diterbitkan pada hari Kiamat maka pilihlah kata-kata dan kalimat-kalimat yang terbaik untuk di goreskan dalam buku karyamu tersebut... [Ustadz Firanda Andirja]
Jumat, 14 November 2014
Selasa, 11 Maret 2014
A Day To Remember
Alhamdulillaah...
...hari yang sederhana untuk mengucap sebuah janji dihadapan-Nya...
~16022014 @Masjid Al-Barkah Kota Bekasi~
Cinta adalah akad dan pernikahan…
Cinta adalah airnya kehidupan bahkan ia adalah rahasia kehidupan…
Cinta adalah kelezatan ruh, bahkan ia adalah ruh kehidupan…
Dengan Cinta…
menjadi terang semua kegelapan…
akan cerah kehidupan…
akan menari hati…
dan akan bersih qalbu…
Dengan cinta semua kesalahan akan dimaafkan…
Dengan cinta semua kelalaian akan diampunkan…
Dengan cinta akan dibesarkan makna kebaikan…
Kalaulah bukan kerana cinta…
Maka tidak akan saling meliuk satu dahan dengan dahan lainnya,
Kalaulah bukan kerana cinta…
Tidak akan merunduk rusa betina kepada jantannya,
Tidak akan menangis tanah yang kering terhadap awan yg hitam,
Dan bumi tidak akan tertawa terhadap bunga pada musim semi…
Ketika cinta hampa dalam kehidupan…
Maka jiwa akan sempit dan terjadilah pertikaian dan perselisihan…
Ketika cinta telah hilang…
Maka akan layu bunga…
Akan padamlah cahaya…
Akan pendeklah usia…
Akan kering danau dihutan belantara…
Dan akan silih berganti datang penyakit dan sengsara…
Kalau cinta telah sirna…
Tatkala itulah lebah meninggalkan bunga…
Tatkala itu burung pipit meninggalkan sarangnya…
Tatkala itu lah kutilang tidak hinggap lagi pada pucuk cemara…
Sekiranya lautan mempunyai pantai…
Dan sekiranya sungai mempunyai muara…
Maka lautan cinta tidak berpantai…
Dan sungai cinta tidak bermuara…
(Kutipan dari buku Buhul Cinta karya Ust Armen Halim Naro rahimahullah)
Selasa, 28 Januari 2014
Jika suatu saat kau menjadi Ibu...
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
Ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman.
“Isy kariman au mut syahiidan!
(Hiduplah mulia, atau mati syahid!),”
kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allooh Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allooh, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman,sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka didunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.
via Muslim Jogja
~dari status seorang sahabat~
Ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid. Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia: “Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman.
“Isy kariman au mut syahiidan!
(Hiduplah mulia, atau mati syahid!),”
kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair. Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih. Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain. Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini: Zaid bin Tsabit.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah Imam Ahmad.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Ya Allooh Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allooh, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”. Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman,sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais.
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses. Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri. Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka didunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.
via Muslim Jogja
~dari status seorang sahabat~
Sabtu, 28 Desember 2013
Nasehat Memilih Jodoh
Dpt Note bagus dr seorg Sahabat
(merindings bacanya) :
Bismillaah...
Sering ana sampaikan sebelumnya, bahwa seorang lelaki yang sholih, jumlahnya teramat sedikit, apalagi para lelaki penuntut 'ilmu yang sholih, yang hatinya terpaut kepada majelis-majelis ilmu, dan jika dia berumah tangga, maka dia akan mengajak istrinya lebih mengutamakan 'ilmu daripada dunia, setiap ada kesempatan ta'lim atau dauroh, dia mengajak istrinya untuk menghadirinya, membimbing istrinya di atas titian 'ilmu, melindungi istrinya dari sengsaranya dunia, dan sengsaranya akhirat, menjauhkan istrinya dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu
Bismillaah...
Sering ana sampaikan sebelumnya, bahwa seorang lelaki yang sholih, jumlahnya teramat sedikit, apalagi para lelaki penuntut 'ilmu yang sholih, yang hatinya terpaut kepada majelis-majelis ilmu, dan jika dia berumah tangga, maka dia akan mengajak istrinya lebih mengutamakan 'ilmu daripada dunia, setiap ada kesempatan ta'lim atau dauroh, dia mengajak istrinya untuk menghadirinya, membimbing istrinya di atas titian 'ilmu, melindungi istrinya dari sengsaranya dunia, dan sengsaranya akhirat, menjauhkan istrinya dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu
Wahai muslimah, jumlah lelaki sholih itu teramat sedikit... hingga engkau sendiri merasakannya, jangan tertipu, jangan membiarkan dirimu terlena akan janji-janji manis lelaki, kenalilah kesholihannya dengan benar di dunia nyata, bukan dari dunia maya, tidak ada kejelasan mengenali kesholihan dari dunia maya. Wahai wanita bersungguh-sungguhlah dalam berdo'a, memohon petunjuk akan jalan yang lurus, sehingga lurus pula hatimu, ridho akan semua ketetapan dari Robb-mu.
Banyak lelaki yang menyerupai ahlus sunnah, maka kenalilah ahlus sunnah yang sebenarnya, jangan sampai engkau tertipu dan salah memilih, ahlus sunnah bukan hanya dari pakaian, bukan hanya dari perkataan, namun dari perbuatan dan persaksian dari ahlus sunnah lainnya, bahwa fulan adalah ahlus sunnah... ahlus sunnah tidak menyendiri, dia akan berkumpul bersama ahlus sunnah lainnya, sebagaimana berkumpulnya burung-burung dengan sejenisnya.
Wahai muslimah, kehidupan duniamu teramat singkat untuk engkau merusaknya, waktumu di dunia teramat singkat untuk engkau mengumpulkan pahala, sedang kalian yakin dengan pasti bahwa kalian adalah penghuni neraka terbanyak, penghuni surga paling sedikit, maka laluilah sisa hidupmu dengan seorang lelaki yang sholih yang mampu membimbingmu dalam ibadah dan amalmu, berjalan bersama meraih jannah di atas titian sunnah, jangan salah memilih... jangan salah memilih...
---------------------------
Rabu, 25 Desember 2013
Hukum pake Smile, Stiker, Ekspresi Wajah, dll
Hukum Menggunakan Smile atau Ekspresi Wajah
Kategori: Fiqh
Diterbitkan pada 21 September 2013
Pertanyan :
ما حكم استخدام الوجوه التعبيرية المعروفة ب( الفيسات) في وسائل التقنية الحديثة ؟
"Apakah hukum menggunakan gambar ekspresi wajah yang dikenal dengan (face) dalam sarana tekhnologi modern?"
Jawab :
الذي يظهر أنه لابأس بذلك ؛ وذلك لأنها ليست صورا بالمعنى الشرعي وإنما هي مجرد رموز يؤتى بها للتعبير عن جملة من الكلام .. ، ثم على تقدير أنها صورة فقد ذكر الفقهاء أن الصورة إذا قطع منها ما لا تبقى معه الحياة فلا تكون محرمة ، وقد قال ابن عباس رضي الله عنهما " الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس فلا صورة " وقد روي مرفوعا ، قال الموفق ابن قدامة رحمه الله : (وإن قطع منه ما لا يبقى الحيوان بعد ذهابه كصدره أو بطنه أو جعل له رأس منفصل عن بدنه لم يدخل تحت النهي لأن الصورة لا تبقى بعد ذهابه فهو كقطع الرأس ( المغني 8/111) . والله أعلم
"Yang nampak adalah tidak mengapa hal
tersebut. Hal ini karena gambar-gambar ekspresi wajah tersebut bukan
gambar (makhluk hidup-pen) menurut syari'at, akan tetapi hanyalah
sekedar simbol-simbol (rumus-rumus) yang didatangkan untuk
mengekspresikan sejumlah perkataan…
Kemudian kalaupun itu adalah
gambar (makhluk hidup-pen) maka para fuqoha (ahli fikih) telah
menyebutkan bahwasanya gambar jika telah dipotong/dihilangkan darinya
apa yang kehidupan tidak mungkin tanpanya maka tidaklah haram. Ibnu
Abbas radhiallahu 'anhumaa telah berkata, "Gambar adalah kepala, maka
jika telah dipotong/dihilangkan kepalanya maka hilanglah (hakekat)
gambar", dan juga ini telah diriwayatkan secara marfu'. Al-Muwaffaq Ibnu
Qudaamah rahimahullah berkata : "Jika dipotong bagian yang hewan tidak
bisa hidup tanpanya dengan dihilangkannya –seperti dadanya atau
perutnya- atau dijadikan kepala yang terpisah dari badannya maka tidak
masuk dalam larangan, karena gambar (makhluk hidup-pen) tersebut tidak
tersisa (hakekatnya-pen) setelah dihilangkan bagian tersebut. Maka
jadilah seperti pemotongan kepala" (al-Mughni 8/111), Wallahu A'lam.
(Sumber : http://www.saad-alkthlan.com/ text-875)
Catatan : Penggunaan gambar-gambar ekspresi wajah diperselisihkan oleh para ulama, karenanya tentu meninggalkannya lebih baik agar keluar dari khilaf para ulama. Kalaupun menggunakannya maka hendaknya jangan menggunakan gambar-gambar ekspresi wajah yang menunjukkan kurangnya rasa malu seseorang. Wallahu A'lam
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.com
Kamis, 12 Desember 2013
Yang Mau Menikah, Hafalin ya Do'a ini...
Cara Melindungi Anak sebelum Kelahiran
Cara melindungi anak sebelum kelahiran adalah berdoa sebelum masuk ke kamar pengantin, saat pernikahan dan berdoa ketika hendak jima’. Disunnahkan setelah akad nikah untuk masuk ke tempat istri, memegang ubun-ubunnya dan berdoa:
اللّهَمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَمَا جَبَلْتَهَا عَلَيِهِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan istriku dan kebaikan yang Engkau ciptakan kepadanya dan aku berlindung dari kejelekkannya dan kejelekan yang Engkau ciptakan kepadanya” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan dari Amr bin Syua’ib dari ayahnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Bila salah seorang dari kalian membeli seorang budak, hendaklah ia mengucapkan:
اللّهَمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَمَا جَبَلْتَهَا عَلَيِهِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
Ketika mendatangi (jima’) dianjurkan membaca doa:
بِسْمِ اللهِ اللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.”
Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Bila kalian membaca doa tersebut ketika hendak mendatangi istri, kemudian mempunyai anak, setan tidak bisa memberi bahaya sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari 9/228 dan Muslim 10/5).
Sumber: Tarbiyatul Abna’ (terj.), Syaikh Musthofa al-Adawi, Media Hidayah
diambil dari page Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia
Rabu, 04 Desember 2013
Hak-Hak Allah di Pagi Hari
HAK ALLAH DI PAGI HARI
"Barangsiapa yang bangun di pagi hari & hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak-hak Allah dalam dirinya (tidak berdzikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :
- kebingungan yang tiada putus- putusnya,
- kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya,
- kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi,
- khayalan yang tidak berujung." (HR. Imam Thabrani)
Hak-hak Allah di pagi hari :
- Bersyukur dengan membaca doa bangun tidur.
- Qiyamullail bila bangun sebelum subuh
- Shalat subuh berjama'ah di masjid
- Tilawah Al Quran
- Dzikir pagi (Al Ma'tsurat)
- Shalat dhuha
Semoga kita bisa melaksanakan hak-hak Allah
Langganan:
Komentar (Atom)




