Jumat, 15 November 2013

Sahabat Qu...


Sahabat Qu@>--...                                            
 
Sahabat yang sesungguhnya, ialah mereka yang selalu mengingatkan kita akan اَللّهُ dan mereka yang akan menggiring kita ke syurga.

Diriwayatkan, bahwa apabila penghuni syurga telah masuk kedalam syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu didunia.
 
Mereka bertanya tentang sahabat-sahabat mereka kepada اَللّهُ : "Yaa Rabb, kami tidak melihat saudara-saudara kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami,...." Maka اَللّهُ  berfirman: "pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah" (Riwayat Ibnul Mubarak dalam kitab "az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Perbanyaklah sahabat-sahabat mu'minmu, karena mereka memiliki syafa'at pada hari kiamat".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis: "Jika kalian tdk menemukan aku nanti di syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada اَللّهُ  tentang aku: "Wahai Rabb kami, hambamu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di syurga"

”Jadi.. Sahabatku alangkah indahnya aku mengenalmu, orang yg selalu mengingatkan aku kpd ALLAH Subhanhu wa ta'ala..kpd nabi Muhammad, kpd amal sholeh, kpd kebaikan kebaikan..menemukan dirimu adalah karunia kehidupan termegah..

Ya اَللّهُ , aku memohon kepada Mu, karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk taat kepada MU.

Yaاَللّهُ. Aku memohon kpd Mu untuk sahabat2 itu agar Engkau jagalah hati mereka, bimbing, ajari mereka, selamatkan dunianya akheratnya, beri kemudahan, berkahi hidupnya, angkat derajatnya, tambahkan ilmunya, bahagiakan dia, ampuni dosanya, maafkan kesalahannya, berilah pertolongan kpd setiap kesulitan diri dan keluarganya..

Ya اَللّهُ, kekalkanlah persahabatan kami sampai kami bertemu denganMu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.

آمِينَ ياَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
.

Sahabatmu..<3({})

Senin, 04 November 2013

Friendship Forever



Agar Persahabatan Tidak Menjadi Permusuhan

Sesungguhnya bukanlah perkara yang gampang untuk membuat relasi persahabatan karena Allah dengan seseorang. Relasi tersebut bukanlah barang yang bisa dibeli…akan tetapi itu adalah anugerah dari Allah dengan sebab usaha pendekatan karena iman.
Karenanya hendaknya kita berusaha untuk menjaga jalinan persahabatan. Yang perlu diingat adalah janganlah kita menganggap sahabat kita adalah malaikat yang tidak pernah bersalah, sehingga setiap kali ia bersalah lantas kita mencelanya. Sikap seperti ini adalah bentuk perenggangan bahkan bisa jadi pemutusan persahabatan, serta bentuk "kurang penghargaan" terhadap karunia relasi persahabatan tersebut yang merupakan anugerah Allah.

Basyaar bin Burod berkata :

ﺇِﺫَﺍ ﻛُﻨْﺖَ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﻌَﺎﺗِﺒًﺎ ..... ﺻَﺪِﻳْﻘَﻚَ ﻟَﻢْ ﺗَﻠْﻖَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻻَ ﺗُﻌَﺎﺗِﺒُﻪ

Jika Engkau pada setiap perkara selalu mencela sahabatmu…
Maka engkau tidak menemukan sahabat yang tidak kau cela

ﻓَﻌِﺶْ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﺃَﻭْ ﺻِﻞْ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ...... ﻣُﻘَﺎﺭِﻑُ ﺫَﻧْﺐٍ ﻣَﺮَّﺓً ﻭَﻣُﺠَﺎﻧِﺒُﻪُ

Jika demikian maka hiduplah engkau sendirian…
Atau jalinlah persahabatan dengan saudaramu karena sesungguhnya ia terkadang melakukan kesalahan dan terkadang menjauhi kesalahan.
(Lihat Taariikh Baghdaad 7/610, tahqiq Basyaar 'Awwaad)

Ia juga berkata :

ﻭَﻣَﻦْ ﺫَﺍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺗُﺮْﺿِﻲ ﺳَﺠَﺎﻳَﺎﻩُ ﻛُﻠُّﻬَﺎ ...... ﻛَﻔَﻰ ﺑِﺎﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻧُﺒْﻼَ ﺃَﻥْ ﺗُﻌَﺪَّ ﻣَﻌَﺎﻳِﺒُﻪُ

Dan siapakah yang seluruh perangainya menyenangkan (orang lain)….??
Cukuplah seseorang dikatakan mulia jika aibnya masih terhitung

Yang lain berkata :

ﺗُﺮِﻳْﺪُ ﺻَﺎﺣِﺒًﺎ ﻻَ ﻋَﻴْﺐَ ﻓِﻴْﻪِ ..... ﻓَﻬَﻞِ ﺍﻟْﻌُﻮْﺩُ ﻳَﻔُﻮْﺡُ ﺑِﻼَ ﺩُﺧَﺎﻥِ؟

Engkau ingin memiliki seorang sahabat yang tidak ada kesalahannya sama sekali??
Maka apakah kayu gaharu bisa mengeluarkan harum wanginya tanpa ada asapnya??

Hendaknya kita bersabar dengan kesalahan sahabat kita dengan tetap berusaha menasehatinya….
Akhirnya….selamat menjalin persahabatan karena Allah,
semoga Allah mencintaimu karena persahabatanmu tersebut.

Oleh: Al-Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja, MA