9 Dzulhijah 1434 H / 14 Oktober 2013
Haruskah Pernikahan Didasari Rasa Cinta?
(Dengarkan Kisah Nyata Akhwat Gorontalo)-
Seorang akhwat menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan:“Namaku Mariani, orang-orang biasa memangilku Aryani. Ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lengkang dalam benakku. Sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa di dunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.Tahun 2007 silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya.
Kak Arfan
adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting
dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia kami terpaut 4 Tahun. Yang aku
tahu bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang
tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa
sampai ia dewasa. Aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila
berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan
pada orang-orang. Geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget
gelagatnya…,Setiap ada acara-acara ramai di kampung pun Kak Arfan tak
pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau
dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan
di mesjid nak, menghadiri taklim”. Dan memang mudah sekali mencari Kak
Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo.
Kak Arfan
sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang
terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang
sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya
yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak
sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang
gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi
menghadiri acara-acara di desa.Tapi bagiku sendiri, itu adalah hal yang
biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah
sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan
kampunga banget. Kadang hatiku sendiri bertanya, koq bisa yah, ada orang
yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri
kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti
kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah riang
lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek,
ngumpul bareng teman-teman kek stiap malam minggunya di pertigaan
kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya.
Apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah
yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak
salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio
Herlambang.
Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada
umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian. Aku
sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby.
Masa-masa indah kulewati bersama Boby. Indah kurasakan dunia remajaku
saat itu. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi aku dan sepertinya
memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami.
Hingga musibah itu
tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal. Yah
siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Arfan lewat pamanku. Orang tuanya
Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu.Mendengar penuturan
mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini
gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak
permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan
langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya
Kak Arfan dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku
memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby. Mendengar semua itu ibuku shock dan
jatuh tersungkur kelantai. Akupun tak menduga kalau sikapku yang egois
itu akan membuat mama shock. Baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama
shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang
tuanya Kak Arfan. Hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu.
Aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak
tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku
Boby.
Hatiku sedih saat itu. Dengan berat hati dan penuh kesedihan aku
menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam
terakhir perjumapaanku dengan Boby di rumahku untuk meluapkan
kesedihanku. Meskipun kami saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby
harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan. Karena dia sendiri
mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.
Tanggal 11
Agustus 2007 akhirnya pernikahanku pun digelar. Aku merasa bahwa
pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku. Air mataku tumpah di malam
resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada
acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan
masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan
yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby
hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut. Ya Allah mengapa semua ini
harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari
semua ini?
Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga
usailah acara resepsi pernikahan kami. Satu per satu para undangan pamit
pulang hingga sepi lah rumah kami. Saat masuk ke dalam kamar, aku tidak
mendapati suamiku Kak Arfan di dalamnya. Dan sebagai seorang istri yang
hanya terpaksa menikah dengannya, maka aku pun membiarkannya dan
langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up
pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku. Aku bahkan tak perduli
kemana suamiku saat itu. Karena rasa capek dan diserang kantuk, aku pun
akhirnya tertidur.Tiba-tiba di sepertiga malam, aku tersentak tatkala
melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku. Dadaku
berdegup kencang. Aku hampir saja berteriak histeris, andai saja saat
itu tak kudengar serua takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu.
Perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di
sampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud.
Perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya
yang saat itu sedang sholat tahajud. Ya Allah aku lupa bahwa sekarang
aku telah menjadi istrinya Kak Arfan. Tapi meskipun demikian, aku masih
tak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Saat itu karena masih
dibawah perasan ngantuk, aku pun kembali teridur. Hingga pukul 04.00
dini hari, kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah
ranjang pengantin kami.Dadaku kembali berdetak kencang kala
mendapatinya. Aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami. Tapi ada
sebuah pertanyaaan terbetik dalam benakku. Mengapa dia tidak tidur di
ranjang bersamaku. Kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia
tidur seranjang denganku itukan logikanya. Ada apa ini? ujarku perlahan
dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan
kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan
kewajibannya sebagai seorang suami. Tapi apa peduliku dengan itu semua,
toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.
Hari-hari terus
berlalu. Kami pun mejalani aktifitas kami masing-masing, KakArfan
bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan aku di rumah
berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami dan
memiliki kewajiban melayani suamiku. Yah minimal menyediakan makanannya,
meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benakku, aku
bahkan masih merindukannya.Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang
tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu
hanya terjadi malam pernikahan kami. Tapi ternyata yang terjadi hampir
setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Arfan selalu tidur
beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam
kamar kami. Dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku.
Jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya. Secara lahir dia selalu
mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku
butuhan. Tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali
mengungkit-ungukitnya atau menuntutnya dariku. Bahkan yang tidak pernah
kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan di depan pintu
kamar, Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah
menyetuhku. Ada apa dengan Kak Arfan? Apakah dia lelaki normal? kenapa
dia begitu dingin padaku? apakah aku kurang di matanya? atau?
Pendengar,
jujur merasakan semua itu, membuat banyak pertanyaan berkecamuk dalam
benakku. Ada apa dengan suamiku? bukankah dia adalah pria yang beragama
dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan batin adalah
kewajibannya? ada apa dengannya? padahal setiap hari dia mengisi
acara-acara keagamaan di mesjid. Dia begitu santun pada orang-orang dan
begitu patuh kepada kedua orangtuanya. Bahkan terhadap aku pun hampir
semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekali
pun dia bersikap kasar dan berkata-kata keras padaku. Bahkan Kak Arfan
terlalu lembut bagiku.Tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah
batinku.
Aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang
begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku
perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby. Aku bahkan mulai
merindukannya tatkala dia sedang tidak dirumah. Aku bahkan selalu
berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia
anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni
mulai memakai busana muslimah yang syar’i. Memang dua hari setelah
pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton
besar. Semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah
tangga. Tapi setelah kubuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang
berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana
gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan lima pasang
manset berwarna gelap pula. Jujur saat membukanya aku sedikit
tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekuensi
menikah dengan seorang ustadz. Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku
untuk menggunakannya. Ternyata dugaanku salah sama sekali. Sebab hadiah
itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyakannya. Kini aku mulai
menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Kukenakan busana itu agar diatahu
bahwa aku mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum
tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti. Kadang ceramah-ceramahnya
di mesjid sering aku ikuti dan aku praktekan di rumah.
Tapi satu yang
belum bisa aku mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan
pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku. Setiap masuk kamar pasti
sebelum tidur, dia selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas
hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga
malam, lalu melaksanakan sholat tahajud.
Hingga suatu saat Kak Arfan
jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Aku sendiri
bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Arfan sendiri tidak
pernah menyentuhku. Aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan
jasa membantunya. Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku
ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya
Allah..Malam itu aku tidur dalam kegelisahan. Aku tak bisa tidur
mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Arfan pun
sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga
ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras
disetai angin yang bertiup kencang. Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat
kedinginan saat ini. Perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya
yang sedang tertidur pulas. Kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur
kekakinya. Ingin sekali aku merebahkan diriku di sampingnya atau sekedar
mengompresnya. Tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya.
Hingga
akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan
tanganku di dahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya. Tapi baru beberapa
detik tanganku menyentuh kulit dahinya, Kak Arfan terbangun dan langsung
duduk agak menjauh dariku sambil berujar ”Afwan dek, kau belum tidur?
kenapa ada di bawah? nanti kau kedinginan? ayo naik lagi ke ranjangmu
dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta kak Arfan
padaku. Hatiku miris saat mendengar semua itu. Dadaku sesak, mengapa Kak
Arfan selalu dingin padaku. Apakah dia menganggap aku orang lain.
Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali untukku. Tanpa kusadari air
mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan
teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hatiku tak bisa kubendung
juga.”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? kau
bahkan takpernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat
tanganku? bukankah aku ini istrimu? bukankah aku telah halal buatmu?
lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? apa
artinya diriku bagimu kak? apa artinya aku bagimu kak? kalau kau tidak
mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? mengapa kak? mengapa?” Ujarku
disela isak tangis yang tak bisa kutahan. Tak ada reaksi apapun dari Kak
Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu. Yang
nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang
menempel di dinding kamar kami.
Hingga akhirnya dia mendekatiku dan
perlahan berujar padaku:
”Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kaka selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakk kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?" ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan inipada saya? tolong jelaskan Kak?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan.“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur? dan apa pekerjaan seorang pelacur? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah mermpas kebahagiaanmu. Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak? Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kaka. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah Ta’ala selanjutnya untuk kakak.”
Mendengar
semua itu, aku memeluk suamiku. Aku merasa bahwa dia adalah lelaki
terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku. Aku bahkan telah melupakan
Boby. Aku merasa bahwa malam itu, aku adalah wanita yang paling bahagia
di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak
Arfan mendatangiku sebagai seorang suami.
Hari-hari kami lalui dengan
bahagia. Kak Arfan begitu sangat kharismatik. Terkadang dia seperti
seorang kakak buatku dan terkadang seperti orang tua. Darinya aku banyak
belajar banyak hal. Perlahan aku mulai meluruskan niatku dengan
menggunakan busana yang syar’i, semata-mata karena Allah dan untuk
menyenangkan hati suamiku.
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah
tumbuh benih-benih cinta kami berdua. Alhamdulillah, aku sangat bahagia
bersuamikan dia. Darinya aku belajar banyak tentang agama. Hari demi
hari kami lalui dengan kebahagiaan. Ternyata dia mencintaiku lebih dari
apa yang aku bayangkan. Dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh
dengan menolak pinangannya. Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung
lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami
berdua.
Di akhir tahun 2008, Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya
tidak panjang. Sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan
tersebut. Aku sangat kehilangannya. Aku seperti kehilangan penopang
hidupku. Aku kehilangan kekasihku. Aku kehilangan murobbiku, aku
kehilangan suamiku. Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan
bersamanya begitu singkat. Yang tidak pernah aku lupakan di akhir
kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu
padaku:
“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga Abdurrahman dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia.Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.Maafkan kakak Dek.., bila selama bersamamu, ada kekurangan yang telah kakak perbuat untukmu. Senantiasalah berdoa.., kalau kita berpisah di dunia ini..Insya Allah kita akan berjumpa kembali di akhirat kelak . Kalau Allah mentakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkanmu, Insya Allah kakak akan senantiasa menantimu..”
Demikianlah pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan
harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini. Hatiku sangat sedih saat itu.
Aku merasa sangat kehilangan. Tetapi aku berusaha mewujudkan harapan
terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik. Selamat jalan
Kak Arfan. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin.
Wasallam”
NB : Kisah Nyata dari Akhwat di Gorontalo, Sulawesi
UtaraDikutip oleh Abul-Harits dari http:// januarpambudi.blogspot.com/ 2012/08/ kisah-akhwat-gorontalo.html dengan sedikit perubahan
